Langsung ke konten utama

3.3.a.9 Koneksi Antar Materi - Pengelolaan Program Berdampak Pada Murid

 

3.3.a.9 Koneksi Antar Materi - Pengelolaan Program Berdampak Pada Murid

Nama CGP         : Litta Umasugi, S.Pd

CGP Angkatan 2 Kota Tidore Kepulauan

Provinsi Maluku Utara


Assalamualaikum, Salam Sejahtera untuk kita semua,…

Tulisan yang saya muat pada blog ini untuk menguraikan tugas tentang pengelolaan program yang berdampak pada murid sebagai umpan balik pemahaman saya terhadap materi yang saya dapatkan dalam mengukiti Program Pendidikan Guru Penggerak. 

Tujuan khusus dari tugas ini adalah:  Calon Guru Penggerak (CGP) mampu menarik kesimpulan dan menjelaskan keterkaitan materi yang diperoleh dan membuat refleksi berdasarkan pemahaman yang dibangun selama modul 3.3 dalam berbagai media.

Panduan Pertanyaan untuk membuat Koneksi Antarmateri:

1. Hal-hal menarik yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan bagaimana benang merah yang bisa Anda tarik dari keterkaitan antarmateri yang diberikan dalam modul 3.3?

Hal-hal menarik dari pembelajaran modul ini adalah memberikan pemahaman pengetahuan kepada saya  bahwa dalam menyusun  program perlu memiliki perencanaan yang sangat baik dan diperlukan komitmen yang kuat untuk melaksanakan setiap perencanaan program yang telah disusun secara sistematis, optimal dan terarah sehingga program yang dirancang benar benar berdaya guna bagi lingkungan sekolah terutama pada kepentingan yang berpihak pada murid. 

Keberhasilan suatu program yang berdampak pada murid memerlukan suatu pemahaman yang sama terhadap pengembangan aset yang dimiliki agar masing-masing bagian dari pemangku kepentingan sekolah dapat berkolaborasi dengan maksimal. Pengelolaan program yang berdampak pada murid dapat dilakukan dengan cara memadukan pendekatan MELR dan Tahapan BAGJA sebagai pedoman dalam membuat program yang berdampak pada murid berdasarkan pemetaan tujuh aset/modal yang dimiliki sekolah melalui pendekatan berbasis aset/kekuatan dalam mewujudkan profil pelajar pancasila. 

Untuk itu ada baiknya kita mengenal lebih dekat terlebih dahulu apa itu MELR (Monitoring, Evaluation, Learning, Reporting (Monitoring, Evaluasi Pembelajaran, Laporan):

1.                  Monitoring adalah proses menghimpun informasi dan analisis internal dari sebuah proyek atau program. 

2.                  Evaluasi adalah sebuah penilaian retrospektif secara periodik pada satu proyek atau program yang telah selesai. Biasanya kegiatan evaluasi melibatkan penilai luar yang independen (Kertsy Hobson, dkk (2013). dapat disimpulkan berdasarkan definisi tersebut kegiatan evaluasi adalah sebuah penilaian retrospektif secara periodik pada satu proyek atau program yang telah selesai. 

3.                  Learning mengandung 4 kegiatan pembelajarang yang bersifat Fact (Fakta), Feeling (perasaan), finding (temuan), future (masa depan).

4.                  Reporting (Laporan) Menurut Himstreet (1983), laporan adalah pesan yang disampaikan secara sistematis dan objektif yang digunakan untuk menyampaikan informasi dari satu bagian organisasi kepada bagian lain atau lembaga lain untuk membantu pengambilan keputusan atau memecahkan persoalan.  Jadi dapat disimpulkan Laporan merupakan alat bagi pimpinan untuk menginformasikan atau memberikan masukan untuk setiap pengambilan keputusan yang diambilnya. Oleh karena itu laporan harus akurat, lengkap, dan objektif. 

Manajemen Resiko:
Dalam Prinsip Dasar Manajemen risiko (2019:3) Manajemen risiko adalah metode yang tersusun secara logis dan sistematis dari suatu rangkaian kegiatan; penetapan konteks, identifikasi,analisa, evaluasi, pengendalian serta komunikasi risiko.

Beberapa tipe risiko di lembaga pendidikan, meliputi:

1.                  Risiko Strategis,  merupakan risiko yang berpengaruh terhadap kemampuan organisasi mencapai tujuan

2.                  Risiko Keuangan, merupakan risiko yang mungkin akan berakibat berkurangnya aset

3.                  Risiko operasional, merupakan risiko yang berdampak pada kelangsungan proses manajemen

4.                  Risiko pemenuhan, merupakan risiko yang berdampak pada kemampuan proses dan prosuderal internal untuk memenuhi hukum dan peraturan yang berlaku

5.                  Risiko Reputasi, merupakan risiko yang berdampak pada reputasi dan merek lembaga. (Princewatercoper, 2003)

Adapun tahapan manajemen risiko adalah sebagai berikut:

1.                  Identifikasi Jenis Risiko, 

2.                  Pengukuran Risiko, 

3.                  Melakukan Strategi Dalam Pengendalian Risiko 

4.                  Melakukan Evaluasi Terus-Menerus, Maju Dan Berkelanjutan

Saya kemudian dapat menyimpulkan bahwa seluruh rangkaian pembelajaran dari moul pertama sampai dengan modul ketiga ini  terintegrasi pada modul 3.3 sebagai bentuk komitmen diri calon guru penggerak untuk mengaksi nyatakan semua materi yang telah dipelajari selama mengikuti pendidikan Guru Penggerak di lingkungan sekolah masing-masing. Besar harapan semua yang saya dapat pada PGP ini dapat saya terapkan dengan baik dan maksimal di sekolah dan dapat berbagi praktik baik di sekolah khususnya dan sekolah-sekolah lain di wilayah saya. 

2. Apakah kaitan antara pemetaan sumber daya dengan perencanaan program sekolah yang berdampak pada murid? 

Perencanaan program sekolah yang berdampak pada murid dibuat berdasarkan asset based thingking atau kekuatan sekolah dengan memetakan tujuh aset/modal utama yang tersebut akan memberikan dampak terhadap pengembangan potensi setiap murid yang ada di sekolah. Jadi aset yang dimiliki sekolah dimanfaatkan secara maksimal dan dijadikan kekuatan yang optimal tanpa menunggu asset dari luar sekolah. Panduan pengelolaan program berdampak pada murid adalah metode “BAGJA” yaitu buat pertanyaan, Ambil pelajaran, Gali Mimpi, jabarkan rencana dan atur eksekusi

Dengan demikian program sekolah yang dibuat akan memberikan dampak pada murid dan tujuan sekolah berpihak pada murid akan tercapai secara efektif dan efisien dalam mendukung program pemerintah untuk mewujudkan profil pelajar pancasila.

3. Adakah materi dalam modul lain/paket modul .lain yang berhubungan dengan materi dalam modul 3.3. ini? Jabarkanlah jika ada. 

·                     Modul Filosofi pendidikan KHD: melalui kemampuan dalam membuat program sekolah yang berdampak pada murid dapat mendukung merdeka belajar karena guru “menuntun” siswa untuk belajar sesuai kodrat alam dan zaman guna pengembangan potensi dan kreatifitas murid di sekolah.

·                     Inkuiri Apresiatif: melalui kemampuan dalam membuat program yang berdampak pada murid dengan menggunakan model “BAGJA” berdasarkan pendekatan berbasis aset/kekuatan yang menghasilkan pemetaan tujuh aset/modal utama yang dimiliki sekolah yakni modal manusia, sosial, lingkungan sekitar/alam, Fisik, finansial dan politik, agama dan budaya maka sekolah sebagai lembaga pendidikan dapat berfungsi dengan baik dengan menggunakan aset tersebut secara efektif dan efisien guna terwujudnya profil pelajar pancasila

 

4. Bagaimana kaitan dari semua materi tersebut dengan peran Anda sebagai guru penggerak?

 

Menurut saya jelas terdapat kaitan antara semua materi yang dipelajari selama proses Pendidikan Guru penggerak dengan peran saya sebagai calon guru penggerak. kesemua materi yang terdapat pada modul bersifat integrasi atau saling menguatkan antara materi satu dengan lainnya sehingga menjadi bekal bagi calon guru penggerak untuk menerapkan dengan komitmen yang tinggi di lingkungan sekolah masing-masing. adapun bentuk keterkaitan semua materi terhadap peran guru penggerak sebagai berikut:

·                     Sebagai pemimpin pembelajaran yang menuntun murid sesuai kodrat alam dan zaman secara mandiri, reflektif,kolaboratif, inovativ serta berpihak pada murid (Filosofi KHD).

·                     Menyelaraskan  peran guru  penggerak dengan visi sekolah sebagai penerapan budaya positif melalui identifikasi kekuatan/potensi sekolah menggunakan Model BAGJA (IA-Budaya Positif)

·                     Memetakan kebutuhan belajar murid sehingga murid tumbuh dan berkembang sesuai dengan bakat dan potensinya ((Pembelajaran Diferensiasi)

·                     Sebagai dasar penanaman pendidikan karakter yang berimplikasi pada perkembangan sosial emosional murid (Pembelajaran KSE)

·                     Melalui coaching model TIRTA mengoptimalkan pelaksanaan proses pembelajaran dan pengembangan kemampuan murid/seseorang dalam menyelesaikan masalahnya sendiri (Coaching)

·                     Pengambilan keputusan berdasarkan paradigm dilema etika, prinsip resolusi, 9 langkah pengambilan keputusan (Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran)

·                     Memetakan tujuh aset/modal utama yang menjadi kekuatan sekolah (Pemimpin dalam pengelolaan sumber daya dengan pendekatan Asset Based Thingking)

·                     Merencanakan program dengan pendekatan model BAGJA dan strategi MELR (Monitoring, Evaluation, Learning, Reporting) dan manajemen Resiko (Pengelolaan program yang berdampak pada murid)

Demikianlah paparan koneksi antara materi 3.3.a.9 pengelolaan program yang berdampak pada murid yang dapat saya jelaskan. semoga bermanfaat.

 

Wassalamulaiakum wrm. wbr

Salam Guru Penggerak!

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

  1. Teruslah berkarya, memberikan manfaat dan berkontribusi memajukan pendidikan Indonesia. Semangat Guru Penggerak

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

3.2.a.10. Aksi Nyata - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

3.2.a.10. Aksi Nyata - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya Nama CGP       : Litta Umasugi, S.Pd SMP Negeri 5 Tidore Kepulauan CGP Angkatan 2 Kota Tidore Kepulauan     Pemetaan Tujuh Kelompok Aset  Sumber Daya di SMP Negeri 5 Tidore Kepulauan Dalam mengelola aset yang ada di sekolah maka seorang Pemimpin pembelajaran harus mampu memetakan 7 aset sumber daya di sekolah yang terdiri atas aset manusia, aset sosial, fisik, finansial, politik, lingkungan dan agama budaya. Dengan pemetaan yang dilakukan maka kita bisa memaksimalkan potensi aset yang ada dengan berpedoman pada prinsip asset based thinking atau berpikir berbasis aset sehingga bisa menghasilkan potensi yang maksimal. Untuk bisa memberdayakan aset yang ada, maka seorang pemimpin pembelajaran harus melakukan manajemen perubahan menggunakan pendekatan inkuiri Apresiatif model BAGJA atau 5D untuk menginisiasi sebuah perubahan positif berdasar aset yang ada. a.  Lat...

3.3.a.7. Demonstrasi Kontekstual - Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid

3.3.a.7. Demonstrasi Kontekstual - Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid Oleh    : Litta Umasugi, S.Pd CGP Angkatan 2 Kota Tidore Kepulauan   A.       Latar Belakang Pendidikan karakter merupakan bentuk kegiatan manusia yang didalamnya terdapat suatu tindakan yang mendidik diperuntukkan bagi generasi selanjutnya. Tujuan Pendidikan karakter adalah untuk membentuk penyempurnaan diri individu secara terus-menerus dan melatih kemampuan diri demi menuju kearah hidup yang lebih baik. Dengan bantuan pelaku pendidikan, pemerintah, pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat, peserta didik dapat memperoleh pendidikan karakter yang efektif. Selain keluarga Sekolah memegang peranan yang sangat penting dalam penumbuhan karakter peserta didik. Dengan melakukan program yang berdapak pada murid merupakan salah satu upaya menciptakan pembelajaran efekatif dan efesien. Penumbuhan karakter melaui program pembiasaan yang dilakukan se...

Aksi Nyata Modul 3.1

  3.1.a.10. Aksi Nyata oleh Litta Umasugi, S. Pd SMP Negeri 5 Tidore Kepulauan CGP Angakatan 2 Kota Tidore Kepulauan   Sekolah adalah ‘institusi moral’, yang dirancang untuk mengajarkan norma-norma sosial, dimana para pemimpin di sekolah akan menghadapi situasi pengambilan keputusan yang banyak mengandung dilema secara etika, dan berkonflik antara nilai-nilai kebajikan universal yang sama-sama benar. Keputusan-keputusan yang diambil di sekolah akan merefleksikan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh sekolah tersebut, dan akan menjadi rujukan atau teladan bagi seluruh warga sekolah. Sebagai seorang pendidik kita di hadapkan pada   situasi di mana Kita diharuskan mengambil suatu keputusan Peristiwa (Fact)   Dalam suatu kelas terdapat siswa yang kurang disiplin terhadap peraturan yang ditentukan oleh sekolah, Diantara nya sering tidak masuk sekolah baik karena sakit, ijin maupun Alpa. Toleransi untuk ketidakhadiran Alpa adalah sebanyak 6 kali Alpa denga...