Langsung ke konten utama

3.2.a.10. Aksi Nyata - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

3.2.a.10. Aksi Nyata - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya


Nama CGP      : Litta Umasugi, S.Pd

SMP Negeri 5 Tidore Kepulauan

CGP Angkatan 2 Kota Tidore Kepulauan

 

 

Pemetaan Tujuh Kelompok Aset  Sumber Daya di SMP Negeri 5 Tidore Kepulauan

Dalam mengelola aset yang ada di sekolah maka seorang Pemimpin pembelajaran harus mampu memetakan 7 aset sumber daya di sekolah yang terdiri atas aset manusia, aset sosial, fisik, finansial, politik, lingkungan dan agama budaya.

Dengan pemetaan yang dilakukan maka kita bisa memaksimalkan potensi aset yang ada dengan berpedoman pada prinsip asset based thinking atau berpikir berbasis aset sehingga bisa menghasilkan potensi yang maksimal.

Untuk bisa memberdayakan aset yang ada, maka seorang pemimpin pembelajaran harus melakukan manajemen perubahan menggunakan pendekatan inkuiri Apresiatif model BAGJA atau 5D untuk menginisiasi sebuah perubahan positif berdasar aset yang ada.

a. Latar belakang

Sumber daya atau aset adalah hal yang sangat mendukung kemajuan sekolah, untuk itu saya sebagai guru harus bisa memetakan dan mengelola aset sekolah menggunakan pendekatan IA model BAGJA untuk menginisiasi perubahan , sehingga saya bisa memaksimalkan pemanfaatan aset guna mendukung pembelajaran di kelas.

Proses pembelajaran yang di lakukan oleh guru haruslah dapat memberikan dampak kepada murid, hal penting yang sering kita abaikan adalah proses pemeblajaran yang harusnya dapat meningkatkan kemandirian dalam belajar, mendorong kreatiftas murid dalam belajar.

Berangkat dari lingkup yang paling kecil yaitu kelas, guru bisa mengidentifikasi modal/aset yang ada untuk dikembangkan. Modal/aset utama sebagai acuan dalam pengembangan sebuah kelas/sekolah adalah modal manusia, modal sosial, modal fisik, modal lingkungan/alam, modal finansial, modal politik, dan modal agama dan budaya.

Pengelolaan Sumber Daya Untuk Meningkatan Kualitas Pembelajaran

Sekolah bisa diibaratkan sebagai sebuah ekosistem, karena didalamnya terdapat interaksi antara unsur hidup (biotik) dan unsur tak hidup (abiotik) dalam lingkungan tertentu. Yang termasuk unsur hidupnya adalah murid, guru, kepala sekolah, pengawas, staf/tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat sekitar. Sedangkan unsur tak hidupnya adalah keuangan dan sarana prasarana sekolah. Berangkat dari hal di atas maka sekolah bisa disebut sebagai sebuah komunitas.

Diperlukan pengelolaan sumber daya yang tepat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Secara umum ada dua pendekatan dalam pengembangan sebuah komunitas, yaitu pendekatan berbasis masalah/kekurangan (deficit-based thinking) dan pendekatan berbasis aset/kekuatan (asset-based thinking) yang dikembangkan oleh Dr. Kathryn Cramer.

 

Selanjutnya bagaimana caranya agar pengelolaan sumber daya bisa meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah? Tentunya langkah pertama yang harus kita lakukan adalah mengidentifikasi aset/kekuatan yang ada kemudian menyusun strategi/program yang tepat dan melaksanakannya. Dalam tahapan menyusun strategi/program menggunakan tahapan BAGJA yang merupakan akronim dari: Buat Pertanyaan-Ambil Pelajaran-Gali Mimpi-Jabarkan Rencana-Atur Eksekusi

B. Tujuan

Pemetaan dan pengelolaan asset atau sumber daya dilakukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas , meningkatkan kemandirian siswa dalam belajar, serta kreativtas untuk mengeksplorasi potensi murid.

minat belajar, menjadikan siswa senang dan bahagia belajar atau mewujudkan “well-being” siswa. Program ini juga bertujuan mewujudkan kepemimpinan murid dengan melibatkan siswa dalam mengorganisir perubahan tersebut. Sehingga harapannya tentunya hal tersebut akan berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan secara umum.

C. Tolok Ukur

Tolak ukur dari inisiasi perubahan adalah terciptanya pembelajaran yang menyenangkan yang dapat meningkatkan kemandirian, kreatifitas serta kepimpinan murid.  

d. Dukungan yang dibutuhkan

Untuk melakasanakan aksi nyata diperlukan kolaborasi semua pihak di sekolah, sehingga saya memerlukan bantuan pemangku kepentingan di sekolah seperti; kepala sekolah
-rekan sejawa, staf TU, siswa. orangtua dan juga dukungan sarana dan prasarana pendukung.

e. Linimasa tindakan yang akan dilakukan

Berikut adalah contoh pembuatan program berdasarkan aset/kekuatan yang ada dengan menggunakan tahapan BAGJA:

PRAKARSA

PERUBAHAN

MAKET DAMAR

(MANDIRI DAN KREATIFITAS DALAM BELAJAR)

TAHAPAN

Pertanyaan

Daftar tindakan yang perlu dilakukan untuk menjawab pertanyaan

B-uat pertanyaan (Define)

Bagaimana cara menumbuhkan kemandirian dan kreatifitas murid dalam belajar?

-   Meninjau rencana pembelajaran yang telah dilakukan.

-   Merencanakan pembelajaran dan kegiatan yang menumbuhkan kemandirian dan kreatifitas murid

-   Merencanakan pembelajaran yang menampung gagasan murid dalam upaya menjaga lingkungan.

A-mbil pelajaran (Discover)

Apa yang dilakukan  untuk menumbuhkan kemandirian dan kreatifitas dalam belajar?

-          Melaksanakan kegiatan pembelajaran yang menumbuhkan kemandirian dan kreativitas dalam belajar.

-          Murid-murid yang menjadi teladan bagi teman-teman sekelas maupun dilingkungan sekolah yang memiliki kemandirian dan kreatifitas dalam belajar.

G-ali mimpi (Dream)

Apa yang dilakukan untuk mewujudkan program serta apa yang menjadi ukuran keberhasilan dari program ini?

-          Murid yang memiliki kemandirian dan kreatif adalah pandai memanfaatkan waktu luang untuk belajar, berkolaborasi dengan teman-teman terkait dengan pembbelajaran yang belum di pahami atau tugas yang belum tuntas. Sedangkan murid yang kreatif dalam membuat rangkuman, tugas dan penuh inovasi.

-          Guru lebih terbuka, memberi kesempatan kepada murid untuk mengembangkan diri, proaktif dalam mendukung dan mengembangkan kreatifitas dan kemandirian murid.

-          Kepala sekolah memfasilitasi dalam mengembangkan kemandirian dan kreatifitas murid.

J-abarkan rencana (Design)

Strategi apa yang yang dapat diterapkan untuk menumbuhkan kemandirian dan kreatifitas murid dalam belajar?

-          Murid secara mandiri menunjukan kreatifitas dengan berpartisipasi dalam perlombaan baik di bidang akademik dan non akademik dengan bimbingan dan arahan guru serta kepala sekolah

-          Pemberian penghragaan dan apresiasi kepada murid yang berhasil atau berartisipasi dalam kegiatan akademik maupun nonakademik sebagai wujud kemandirian dan kreatifitas mereka.

-          Monitoring dan evaluasi serta tindak lanjut pelaksanaan program untuk mengembangkan kemandirian dan kreatifitas murid dalam belajar.

A-tur eksekusi (Deliver)

Siapa saja yang akan terlibat dalam memonitor, mengawasi serta mengevaluasi program ini?

-          Kepala Sebagai penanggung jawab serta coordinator.

-          Guru sebagai pelaksana dan pembimbing.

-          Murid sebagai pelaksana program

-          Laporan dibuat oleh pembimbing sesuai dengan bidang lomba

 

Pembelajaran

Feeling atau Perasaan

Perasaan yang dirasakan saat melaksanakan aksi nyata adalah optimis dan juga bersemangat, karena memiliki harapan besar kepada murid-murid untuk melakukan perubahan-perubahan sesuai impian mereka.

Saya juga merasa sangat antusias dan juga tertantang untuk menentukan langkah-langkah apa yang selanjutnya akan saya lakukan dalam mendorong kemandirian, kreativitas serta kepemimpinan murid-murid.

Pembelajaran atau Finding

Dalam aksi nyata kali ini hal yang menjadi pembelajaran berharga adalah bahwa sejatinya sebuah perubahan haruslah dimulai dengan siswa, oleh siswa dan untuk siswa karena sejatinya tugas kita sebagai pendidik adalah menuntun, memfasilitasi anak didik agar mereka mendapatkan hal yang bermanfaat untuk bekalnya dalam hidup bermasyarakat.

Selain itu sebagai guru, maka sangat penting untuk mengubah mindset atau sudut pandang kita dalam melihat aset atau sumberdaya di sekolah ke arah pemikiran positif, ke sistem berpikir berbasis aset atau asset based thinking untuk bisa mengelola aset yang ada untuk kemajuan sekolah dengan lebih optimal.

Penerapan ke depan atau Future

Ke depannya saya berharap akan selalu optimis dalam melaksanakan aksi nyata pengelolaan aset sekolah ini bisa saya terapkan secara konsisten dalam membuat sebuah perubahan di sekolah.

Maka sebagai seorang guru, maka saya harus memetakan 7 aset atau sumber daya yang ada di sekolah dan mengelola aset atau sumberdaya yang ada untuk kepentingan pembelajaran yang berdampak pada murid.

Hal yang tidak kalah penting adalah mengubah pola pikir yang cenderung negatif, berbasis kekurangan, dan kelemahan ke arah pola pikir positif yang berbasis pada kekuatan, fokus pada aset atau modal yang dimiliki atau kekuatan, karena dengan fokus pada kekuatan akan membuka peluang- peluang dan harapan- harapan serta jalan untuk mencapai impian.

 

Demikian Aksi Nyata Modul 3.1 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

Wasaalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

3.3.a.7. Demonstrasi Kontekstual - Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid

3.3.a.7. Demonstrasi Kontekstual - Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid Oleh    : Litta Umasugi, S.Pd CGP Angkatan 2 Kota Tidore Kepulauan   A.       Latar Belakang Pendidikan karakter merupakan bentuk kegiatan manusia yang didalamnya terdapat suatu tindakan yang mendidik diperuntukkan bagi generasi selanjutnya. Tujuan Pendidikan karakter adalah untuk membentuk penyempurnaan diri individu secara terus-menerus dan melatih kemampuan diri demi menuju kearah hidup yang lebih baik. Dengan bantuan pelaku pendidikan, pemerintah, pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat, peserta didik dapat memperoleh pendidikan karakter yang efektif. Selain keluarga Sekolah memegang peranan yang sangat penting dalam penumbuhan karakter peserta didik. Dengan melakukan program yang berdapak pada murid merupakan salah satu upaya menciptakan pembelajaran efekatif dan efesien. Penumbuhan karakter melaui program pembiasaan yang dilakukan se...

Aksi Nyata Modul 3.1

  3.1.a.10. Aksi Nyata oleh Litta Umasugi, S. Pd SMP Negeri 5 Tidore Kepulauan CGP Angakatan 2 Kota Tidore Kepulauan   Sekolah adalah ‘institusi moral’, yang dirancang untuk mengajarkan norma-norma sosial, dimana para pemimpin di sekolah akan menghadapi situasi pengambilan keputusan yang banyak mengandung dilema secara etika, dan berkonflik antara nilai-nilai kebajikan universal yang sama-sama benar. Keputusan-keputusan yang diambil di sekolah akan merefleksikan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh sekolah tersebut, dan akan menjadi rujukan atau teladan bagi seluruh warga sekolah. Sebagai seorang pendidik kita di hadapkan pada   situasi di mana Kita diharuskan mengambil suatu keputusan Peristiwa (Fact)   Dalam suatu kelas terdapat siswa yang kurang disiplin terhadap peraturan yang ditentukan oleh sekolah, Diantara nya sering tidak masuk sekolah baik karena sakit, ijin maupun Alpa. Toleransi untuk ketidakhadiran Alpa adalah sebanyak 6 kali Alpa denga...