Langsung ke konten utama

Aksi Nyata Modul 3.1

 

3.1.a.10. Aksi Nyata

oleh Litta Umasugi, S. Pd

SMP Negeri 5 Tidore Kepulauan

CGP Angakatan 2 Kota Tidore Kepulauan

 

Sekolah adalah ‘institusi moral’, yang dirancang untuk mengajarkan norma-norma sosial, dimana para pemimpin di sekolah akan menghadapi situasi pengambilan keputusan yang banyak mengandung dilema secara etika, dan berkonflik antara nilai-nilai kebajikan universal yang sama-sama benar. Keputusan-keputusan yang diambil di sekolah akan merefleksikan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh sekolah tersebut, dan akan menjadi rujukan atau teladan bagi seluruh warga sekolah. Sebagai seorang pendidik kita di hadapkan pada  situasi di mana Kita diharuskan mengambil suatu keputusan

Peristiwa (Fact)

 

Dalam suatu kelas terdapat siswa yang kurang disiplin terhadap peraturan yang ditentukan oleh sekolah, Diantara nya sering tidak masuk sekolah baik karena sakit, ijin maupun Alpa. Toleransi untuk ketidakhadiran Alpa adalah sebanyak 6 kali Alpa dengan tahapan sebagai berikut: Jika Alpa 1 kali maka siswa dipanggil untuk diberikan pengarahan dan motivasi, Jika ternyata diulang kembali sehingga Alpanya menjadi 2, maka siswa akan dipangil kembali untuk mengetahui alasan kenapa siswa melakukan kesalahan yang sama dan selanjutnya menginformasikan ke orangtua. Jika mengulang Alpa kembali, selanjutnya siswa akan diberikan sanksi berupa surat peringatan tanpa materai yang diketahui oleh wali kelas, guru BK, PDS dan kesiswaan.

Proses pembinaan di lakukan oleh wali kelas, guru BK da Kesiswaan namun hal ini tetap terjadi. Wali kelas kemudian mengunjungi rumah murid-murid tersebut untuk menyampaikan kepada orang tua perihal yang terjadi, wali kelas menyampaiakn pula aur pembinaan kepada murid serta langkah lanjut dari sekolah jika hal ini tetap terjadi, kemudian berdiskusi tentang langkah terbaik yang akan dilakukan untuk mengatasi masalah ini. Akan tetapi pelaksanaanya, peraturan yang ada kadang tidak berjalan semestinya karena pemberian kesempatan dan toleransi dengan harapan murid-murid tersebut dapat berubah.  

 

Alasan melakukan aksi nyata

Alasan melakukan aksi nyata tersebut adalah karean adanya kasus di mana murid memiliki alpa atau tidak hadir tanpa alsan yang jelas sudah sebanyak  6 kali atau lebih, tetapi karena mempertimbangkan dampak serta rasa kasih sayang maka murid tersbut pada akhirnya akan naik ke jenjang berikutnya, meskipun tidak sesuai dengan persyaratan naik kelas.

Hasil aksi nyata

Hasil aksi nyata yang dilakukan adlah dokumentasi dari rapat dewan guru menyatakan siswa bermasalah pada akhirnya naik kelas.

Perasaan (Feelings)

Perasaan ketika dan setelah menjalankan aksi nyata, saya merasa mengalami situasi Dilema etika terhadap masalah murid tersebut. Di satu sisi, jika mengacu pada peraturan sekolah maka siswa tersebut tidak naik ke jenjang selanjutnya, namun disisi lain adalah dampak dari keputusan tersebut akan membuat putus sekolah maka akan berdampak pada masa depan anak tersebut. Apapun keputusan yang kita ambil sebagai seorang pendidik haruslah mempertimbangkan dampak dari keputusan yang kita ambil, pertimbangan kemanusiaan serta kasih sayang mengalahkan pertimbangan lain.

Setelah melakukan Aksi nyata saya merasa lebih tenang karena keputusan berdasarkan suara terbanyak dan identifikasi maupun analisis masalah yang tepat untuk kebaikan bersama antara sekolah dan siswa. Paradigma yang digunkaan adalah paradigm jangka pendek melawan jangka panjang, dimana keputusan hari ini akan terlihat dampaknya pada kehidupan dan masa depan anak didik kita. Untuk kedepanya dapat menerapkan lebih maksimal lagi 9 langkah dalam mengambil keputusan dalam menyelesaikan suatu masalah yang terjadi di sekolah.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

3.2.a.10. Aksi Nyata - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

3.2.a.10. Aksi Nyata - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya Nama CGP       : Litta Umasugi, S.Pd SMP Negeri 5 Tidore Kepulauan CGP Angkatan 2 Kota Tidore Kepulauan     Pemetaan Tujuh Kelompok Aset  Sumber Daya di SMP Negeri 5 Tidore Kepulauan Dalam mengelola aset yang ada di sekolah maka seorang Pemimpin pembelajaran harus mampu memetakan 7 aset sumber daya di sekolah yang terdiri atas aset manusia, aset sosial, fisik, finansial, politik, lingkungan dan agama budaya. Dengan pemetaan yang dilakukan maka kita bisa memaksimalkan potensi aset yang ada dengan berpedoman pada prinsip asset based thinking atau berpikir berbasis aset sehingga bisa menghasilkan potensi yang maksimal. Untuk bisa memberdayakan aset yang ada, maka seorang pemimpin pembelajaran harus melakukan manajemen perubahan menggunakan pendekatan inkuiri Apresiatif model BAGJA atau 5D untuk menginisiasi sebuah perubahan positif berdasar aset yang ada. a.  Lat...

3.3.a.7. Demonstrasi Kontekstual - Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid

3.3.a.7. Demonstrasi Kontekstual - Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid Oleh    : Litta Umasugi, S.Pd CGP Angkatan 2 Kota Tidore Kepulauan   A.       Latar Belakang Pendidikan karakter merupakan bentuk kegiatan manusia yang didalamnya terdapat suatu tindakan yang mendidik diperuntukkan bagi generasi selanjutnya. Tujuan Pendidikan karakter adalah untuk membentuk penyempurnaan diri individu secara terus-menerus dan melatih kemampuan diri demi menuju kearah hidup yang lebih baik. Dengan bantuan pelaku pendidikan, pemerintah, pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat, peserta didik dapat memperoleh pendidikan karakter yang efektif. Selain keluarga Sekolah memegang peranan yang sangat penting dalam penumbuhan karakter peserta didik. Dengan melakukan program yang berdapak pada murid merupakan salah satu upaya menciptakan pembelajaran efekatif dan efesien. Penumbuhan karakter melaui program pembiasaan yang dilakukan se...